Quiet Quitting Kerja: Saat Karyawan Bekerja Secukupnya Tanpa Resign

Quiet Quitting Kerja: Saat Karyawan Bekerja Secukupnya Tanpa Resign

Quiet Quitting: Bekerja Secukupnya, Tanpa Perlu Mengundurkan Diri

IndonesiaDalamBerita – Fenomena quiet quitting kerja belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di kalangan pekerja generasi milenial dan Gen Z. Istilah ini tidak berarti karyawan benar-benar resign, melainkan menolak bekerja melebihi job description tanpa kompensasi tambahan.

Konsep ini muncul sebagai respons terhadap budaya kerja berlebihan (hustle culture) yang dianggap melelahkan secara fisik dan mental.

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting adalah sikap bekerja sesuai jam kerja dan tugas formal, tanpa mengambil beban tambahan seperti lembur, inisiatif ekstra, atau komunikasi di luar jam kerja. Istilah ini pertama kali viral di TikTok pada tahun 2022 dan kini menjadi perbincangan global di dunia HR dan manajemen organisasi.

Ciri-Ciri Quiet Quitting:

  • Menolak lembur tanpa kompensasi

  • Tidak menjawab pesan kerja di luar jam kantor

  • Tidak mengikuti rapat atau kegiatan non-esensial

  • Fokus hanya pada target minimum pekerjaan

Baca Juga: New Jenggalu Resto Bengkulu: Kuliner Nusantara Bernuansa Wisata Air

Penyebab Quiet Quitting Meningkat

Beberapa faktor yang mendorong fenomena ini antara lain:

  1. Burnout dan tekanan mental akibat kerja berlebihan

  2. Kurangnya apresiasi dari atasan atau perusahaan

  3. Tidak ada keseimbangan kerja-hidup (work-life balance)

  4. Minimnya peluang pengembangan karier

  5. Kekecewaan terhadap budaya kantor yang toksik

Menurut survei Gallup (2023), hanya 23% pekerja global yang terlibat secara aktif dalam pekerjaan mereka, sisanya cenderung pasif atau menarik diri secara diam-diam.

Dampaknya bagi Perusahaan

Fenomena ini memberi dampak signifikan, di antaranya:

  • Penurunan produktivitas tim

  • Minim inovasi dan inisiatif individu

  • Kultur kerja yang stagnan

  • Tingginya potensi rotasi karyawan diam-diam

Meski begitu, sebagian analis menyebut quiet quitting sebagai “protes pasif” yang justru membuka ruang dialog soal hak dan beban kerja yang adil.

Strategi Perusahaan Dalam Menghadapi Quiet Quitting

Alih-alih memaksa karyawan “bekerja lebih”, perusahaan dapat:

  1. Fokus pada kesejahteraan dan kesehatan mental
  2. Bangun komunikasi dua arah yang terbuka
  3. Tawarkan jalur karier yang jelas dan realistis
  4. Berikan apresiasi nyata, bukan sekadar formalitas
  5. Fleksibilitas kerja untuk dukung work-life balance

Cermin Budaya Kerja

Quiet quitting bukan sekadar tren, tapi sinyal bahwa banyak pekerja merasa jenuh, tidak dihargai, dan ingin batas yang sehat antara kerja dan hidup pribadi. Perusahaan yang mampu merespons secara empatik dan strategis akan lebih siap menciptakan ekosistem kerja yang berkelanjutan.

Ikuti update terbaru seputar Berita di sosial media kami:
Tiktok: @indonesiadalamberita_  | Instagram: @indonesiadalamberita

admin

One thought on “Quiet Quitting Kerja: Saat Karyawan Bekerja Secukupnya Tanpa Resign

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *